Literasi Digital dan Generasi Milenial

Tahukah Anda jika Indonesia termasuk negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia? Hal ini juga terlihat dari data yang dikeluarkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), bahwa pengguna internet di Indonesia tahun 2017 sekitar 132 juta orang. Angka ini tumbuh sebanyak 51 persen dalam kurun waktu satu tahun saja.

Peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia akan sangat menunjang perkembangan dunia digitalnya. Perkembangan ini tidak selamanya membawa dampak positif. Akan tetapi, berkembangnya peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital akan menimbulkan tantangan juga. Tantangan yang dimaksud adalah kekhawatiran terhadap generasi muda. Jumlah generasi muda yang mengakses internet sangatlah besar. Menurut data, kurang lebih 70 juta orang generasi muda menggunakan internet.

Kekhawatiran terhadap perilaku generasi muda dalam berinternet cukuplah beralasan. Mereka dalam satu hari lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinternet. Menurut survey, generasi muda mampu berinternet lebih kurang 5 jam perharinya. Apalagi banyak di antara mereka yang mengakses konten berbau pornografi. Selain itu, mereka juga banyak yang berinternet secara tidak sehat. Contohnya dengan menyebarnya berita atau informasi hoaks, ujaran kebencian, dan intoleransi di media sosial. Problematika ini tentunya menjadi tantangan besar bagi kita semua dalam rangka mempersiapkan generasi milenial yang memiliki kompetensi digital.

Generasi muda memang sudah sangat mahir mengakses media digital. Namun, kemampuan itu belum diimbangi dengan kemampuan menggunakan media digital untuk pengembangan diri. Menurut catatan dari Kominfo, saat ini jumlah media digital di Indonesia tercatat sekitar 43.400. Adapun yang terdaftar di Dewan Pers sekitar 243 media saja. Jumlah media digital yang semakin meningkat, baik resmi atau tidak, berhubungan langsung maupun tidak dengan merosotnya budaya baca masyarakat. Sekarang ini, gawai (gadget) mampu mengalihkan perhatian orang dari buku.

Selain tantangan, perkembangan media digital juga membuka peluang bisnis e-commerce, lahirnya lapangan kerja baru berbasis media digital, dan pengembangan kemampuan literasi digital. Pada bidang e-commerce, perusahaan dapat meningkatkan pemasaran barang dan jasa secara global. Hal itu juga mengurangi waktu dan biaya promosi dari barang dan jasa yang dipasarkan. Hal itu karena informasi yang diunggah ke internet dapat diakses secara terus-menurus di internet. Melalui media digital, muncul pula lapangan pekerjaan baru, seperti ojek atau taksi daring, media sosial analisis, dan pemasaran media sosial.

Pada bidang literasi digital, peralatan dan jaringan internet dapat membantu mengembangkan kemampuan literasi. Melalui digitalisasi, kita dapat menjadi media perantara menuju praktik literasi teks berbasis cetak. Contohnya, para blogger dapat diarahkan untuk mengumpulkan tulisan dan bisa dicetak menjadi buku. Kita juga dapat melatih orang-orang yang gemar menulis di jejaring sosial untuk mengemukakan gagasannya secara lebih baik lagi. Selain itu, dalam mengembangkan dunia literasi digital, Douglas A.J. Belshaw dalam tesisnya “What is Digital Literacy?” (2011) mengatakan ada delapan elemen esensial berikut ini.

  1. Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital;
  2. Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten;
  3. Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual;
  4. Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital;
  5. Kepercayaan diri yang bertanggung jawab;
  6. Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru;
  7. Kritis dalam menyikapi konten; dan
  8. Bertanggung jawab secara sosial.

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *