Menyoal Hoaks dan Daya Nalar Kita

Akhir-akhir ini Indonesia sempat gaduh akibat adanya hoaks yang menyebar di masyarakat. Misalnya, kasus penganiayaan hingga tewas terhadap pemuka agama, kasus perusakan tempat ibadah di beberapa wilayah, dan kasus-kasus lainnya. Berita tersebut memang benar adanya. Namun, semenjak kasus tersebut mencuat, hoaks yang memberitakan hal serupa bermunculan di mana-mana. Sayangnya,  berita tersebut dibumbui unsur-unsur negatif. Lantas, apa yang terjadi? Hoaks-hoaks tersebut justru diamini oleh sebagian orang dan berhasil menggiring opini publik.

Berangkat dari hal tersebut, timbullah pertanyaan apakah fungsi penalaran pembuat hoaks tersebut sudah tidak berfungsi? Tak jelas motif mereka membuat hoaks tersebut, namun yang jelas Indonesia sempat gaduh dengan berita-berita serupa yang bermunculan. Hoaks (dalam bahasa Inggris, hoax) bermakna berita bohong, sangat bertolak belakang dengan makna kejujuran–yang artinya mengungkapkan sesuatu secara apa adanya. Hal tersebut berarti bahwa pembuat hoaks tersebut jauh dari nilai-nilai kejujuran dan kemampuannya menalar dipertanyakan. Begitu pula dengan masyarakat yang ikut, secara sadar maupun tidak sadar-menyebarluaskan hoaks tersebut di media sosial.

Mengapa kejujuran dikaitkan dengan penalaran? Menurut M. Zaid Wahyudi, dalam artikelnya yang diterbitkan Kompas (25/04/2013), orang yang tidak jujur adalah orang yang tidak mampu menalar. Ternyata, kejujuran tidak hanya dapat ditingkatkan secara afektif saja. Aspek kognitif pun berperan dalam  pengembangan sikap ini. Lebih lanjut, Zaid Wahyudi mengungkapkan bahwa bagian otak yang berperan untuk meningkatkan kejujuran adalah bagian korteks prefontalis. Bagian otak tersebut akan terus berkembang jika kita terus melatihnya dengan kemampuan berpikir logis.

Kemampuan berpikir logis inilah yang dapat kita kedepankan untuk meningkatkan sikap jujur pada pribadi seseorang. Secara jangka panjang, sikap jujur ini dapat dilatih di dunia pendidikan dengan mengarahkan siswa untuk berpikir secara logis atau berdasarkan logika. Proses di ranah pendidikan tersebut, yang mengedepankan logika berpikir, akan semakin meningkatkan kemampuan menalar siswa. Sementara itu, di lingkungan keluarga, sikap jujur dapat diajarkan oleh orang tua dengan pengembangan spiritualitas anak; mengajarkan bahwa sikap jujur merupakan sikap yang dianjurkan agama. Hal yang tak kalah penting lainnya adalah sikap tidak jujur merupakan sikap yang jauh dari nilai-nilai ajaran agama. Peran pendidikan di sekolah dan di rumah tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi bangsa yang mampu menalar dengan berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Lantas, apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi hoaks itu? Menalarlah, berpikir logislah, dan cerdaslah dalam menyikapi ketidakjujuran berbentuk hoaks tersebut. Cerdaslah dalam melihat apakah berita yang tersebar dapat dipertanggungjawabkan? Apakah berita tersebut perlu kita sebarluaskan? Hal itulah yang dapat kita lakukan dalam menyikapi hoaks saat ini. Untuk jangka panjang, didiklah anak/siswa kita dalam berpikir logis dan tingkatkanlah spiritualitas mereka dengan menjadi figur orang tua yang jujur dan layak mereka contoh. Jika hal tersebut dapat kita lakukan, tak hanya hoaks yang dapat kita antisipasi, namun krisis moral berbentuk ketidakjujuran dapat kita hindarkan dari negeri kita yang tercinta ini.

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *